Showing posts with label Dunia Kriminal. Show all posts
Showing posts with label Dunia Kriminal. Show all posts

Thursday, 28 July 2011

Buruh Bangunan Gantung Diri di Bedeng



Seorang buruh bangunan, Edi Periansyah gantung diri di sekitar bedeng tempat para buruh membangun gedung di Jl Warung Buncit Raya RT 2 RW 5 Kelurahan Kalibata Pulo, Pancoran, Jakarta Selatan, Kamis (28/7/2011). Pria itu diduga stres.

Buruh Bangunan Gantung Diri di Bedeng

Warga kelahiran Bandung 15 Februari 1990 ditemukan gantung diri sekitar pukul 06.00 WIB.

Buruh Bangunan Gantung Diri di Bedeng

Edi gantung diri menggunakan tali bangunan. Sebelum ditemukan gantung diri, Edi sempat marah-marah dengan melempar besi dan sebagainya.






sumber :http://foto.detik.com/readfoto/2011/07/28/123815/1691364/157/1/buruh-bangunan-gantung-diri-di-bedeng

Gokil, Beragam Ekspresi Wajah Sedih Para Pelaku Kriminal



Berikut ekspresi-ekspresi pelaku kriminal dari kantor polisi yang sedang sedih bgt
































sumber :http://terselubung.blogspot.com/2011/07/gokil-beragam-ekspresi-wajah-sedih-para.html

Wednesday, 27 July 2011

Ibu Upah Anak Angkat Rp 2 Juta Untuk Bunuh Anak Kandung Sendiri



Kesal dengan perlakuan anaknya, ibu kandung Agnes Kharisma membayar anak angkatnya Rp 2 juta untuk membunuh anaknya sendiri yang tiada lain Agnes alias Risma. M, ibu dari Agnes Kharisma menurut Kapolres Jakarta Selatan Kombes Pol Gatot Edi Pramono, menjelaskan bahwa S yang tiada lain anak angkat dari M dan temannya U dibayar Rp 2 juta. “Kedua pelaku S dan U mengaku dibayar Rp 2 juta untuk melakukan pembunuhan,” kata Gatot di Mapolres Jakarta Selatan, Rabu (23/3/2011). Seusai membunuh Agnes dan membuangnya ke selokan di sekitar Jagakarsa, Jakarta Selatan pada 10 Februari 2011. Para pelaku langsung melarikan diri. Pelaku S pulang ke rumahnya di kawasan Bekasi dan U langsung pulang kampung di Jawa Timur.



“Mereka ditangkap di kediamannya kecuali M ditangkap saat pemeriksaan di Polres Jakarta Selatan,” kata Gatot Edi. M mengakui kepada polisi telah merencanakan pembunuhan tersebut dengan anak angkatnya S. Ketiga tersangka saat ini dijerat pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana dengan ancaman hukuman 20 tahun dan maksimal hukuman mati.

Sempat diwartakan sebelumnya, masyarakat di Jalan Joe, Jagakarsa, Jakarta Selatan digemparkan dengan penemuan mayat tanpa busana di sebuah selokan tepat didepan kios ponsel. Saat itu warga menduga kalau mayat tersebut adalah orang gila yang biasa lewat dilokasi.

Namun, setelah dilakukan penyidikan ternyata mayat tersebut Agnes yang menghilang sejak tiga hari sebelum ditemukan. Awalnya Agnes diduga dibunuh teman laki-lakinya, tetapi belakangan Agnes diketahui dibunuh ibu kandungnya bersama dua pelaku lainnya. Sang ibu mengaku membunuh anaknya lantaran merasa sakit hati dengan perlakuan anaknya yang tidak memandangnya sebagai ibu bahkan Agnes sempat mengusir dirinya.


Spoiler for korban:
ane tak memasang photo pelaku khawatir ..takut main hukum sendiri ... ma'af gann!



sumber :http://www.kaskus.us/showthread.php?t=7609033

Tuesday, 26 July 2011

Ya Ampun! Sekumpulan Bocah 13 tahun di Palembang Pesta Seks


Quote:

Kejadian di perkampungan padat di Palembang ini sungguh mengiris hati. Sejumlah bocah berusia di bawah 13 tahun kedapatan melakukan pesta seks dengan teman sebaya. Perbuatan ini bahkan terjadi tiga kali di tempat berbeda.


Tindakan ini terungkap ketika Saman (40), salah satu orangtua korban, melapor ke Polsek Ilir Barat II, Palembang, Rabu (20/4/2011). Warga Jalan Depaten Baru, 28 Ilir, Palembang, ini mengadukan permasalahan yang menimpa anaknya.


Terhadap kasus ini, Kapolsek Ilir Barat II, Kompol Trie Aprianto, mengatakan saat ini seluruh orangtua para bocah dipanggil ke Polsek Ilir Barat II. Polisi melakukan mediasi agar tak terjadi kesalahpahaman. Apalagi salah satu orangtua masih tak terima atas tindakan asusila tersebut.


Bagaimana peristiwa menyedihkan ini terjadi? Berdasarkan informasi yang didapatkan wartawan, tindakan bejat ini berawal sebulan lalu di Lorong Peluncuran, 28 Ilir, Palembang.


Saat itu ada enam bocah berinisial Sawa (12), Ada (12), Baya (12), Iha (12), Uda (12) dan Yag (11). Keenam bocah yang semuanya lelaki ini berpasangan dalam melakukan tindakan asusila, misalnya Sawa dan Ada, Baya dan Iha, Uda dengan Yag.


Sepekan kemudian, tindakan asusila kembali terjadi di lokasi berbeda yakni di rumah Damomon, seorang warga yang beralamat di 28 Ilir, Palembang. Uda, bocah putus sekolah memaksa Yig dan Nib, bocah perempuan yang masih berusia lima tahun melakukan tindak asusila. Hal itu disaksikan dua bocah lain yakni Sawa dan Ada.


Peristiwa yang ketiga kembali terjadi di rumah Damomon. Kala itu di rumah Damomon sedang ada hajatan, dan di bawah tenda hajatan inilah para bocah tersebut kembali melakukan tindak asusila. Uda memaksa Yig melayaninya dan aksi ini disaksikan Kan dan Narad, dua bocah lelaki lain.


"Kami melakukannya, tapi berpasang-pasangan," kata Uda sambil menundukkan kepalanya, di Mapolsek Ilir Barat II Palembang.


hoalaaah gimana dengan nasib anak anak yang lainyahh









sumber :http://www.kaskus.us/showthread.php?t=8076356

Foto - Foto "Penyiksaan" Bocah-Bocah Calon Juara Olimpiade Dari China

Foto - Foto "Penyiksaan" Bocah-Bocah Calon Juara Olimpiade Dari China

"Olahraga adalah bisnis yang serius di Sekolah Shichahai, yang merupakan salah satu dari lebih dari 300 sekolah elit, yang kontroversial, yang didanai pemerintah akademi dikhususkan untuk pelatihan generasi berikutnya dari atlet Cina", tulis Telegraph dalam laporan yang diterbitkan sebelum Olimpiade Beijing.
Pelatihan untuk olahraga dimulai pada usia sangat dini di Cina. Sebagian besar dibina di usia enam tahun dan dikirim ke sekolah olahraga khusus bersama dengan ribuan lain yang menunjukkan punya bakat. Mayoritas tidak lulus seleksi kelas tetapi bagi mereka yang lulus, mereka mendapat tekanan yang intens untuk menang. Sekitar 600 anak usia antara enam dan 18, dari seluruh Cina, penuh waktu berlatih di Sekolah Olahraga Shichahai.

Enam hari seminggu, mereka belajar di pagi hari dan melatih selama empat jam di sore hari. Orangtua diperbolehkan untuk melihat anak-anak mereka hanya pada akhir pekan, tetapi di ruangan yang terpisah, para orang tua ini membawa harapan anaknya akan menuai kemenangan dan kemewahan sebagai juara Olimpiade.


Orang tua dari atlet menjanjikan yang miskin sering diberikan sebuah rumah di kampung halaman mereka oleh biro olahraga lokal. Yang Lain hanya ingin pendidikan yang layak bagi anak-anak mereka.Shichahai telah memainkan peran utama dalam memproduksi atlet top untuk negara yang banyak memenangkan medali emas di Olimpiade.


Tetapi untuk semua keberhasilannya, sekolah, dan sistem pendidikannya, telah dituduh terlalu keras dalam mengekspos dan mendidik para calon atlet muda mereka, dan bahkan menyalahgunakan anak-anak.Pada kunjungan ke Shichahai pada tahun 2005, juara Olimpiade dayung empat kali dari Inggris Sir Matthew Pinsent mengatakan ia melihat seorang anak gadis 7 tahun yang menangis yang dipaksa untuk melakukan handstands, dan anak laki-laki dengan tanda cap di punggungnya.


Anak usia enam tahun haul kepala mereka di atas bar berulang - wajah mereka terlihat tegang seperti menahan sakit tetapi mereka tidak mengeluarkan suara. Para pelatih begitu ketat dan tidak pernah tersenyum. Beberapa pelatih dituduh sering melakukan pemukulan pada siswanya. Dalam satu kasus, Sekolah Atletik Liaoning Anshan ditemukan telah memberi doping pada murid-muridnya di usia muda 15 tahun, dengan hormon erythropoietin (EPO) dan testosteron.


Wu Yigang, seorang profesor di Shanghai University, mengatakan kepada Washington Post, "Beberapa sekolah khusus olahraga dapat disamakan dengan tidak lebih dari pabrik perakitan atlit. Mereka sering membutuhkan 6 jam atau lebih pelatihan dalam sehari. ” Banyak atlet China telah mencurahkan begitu banyak waktu mereka untuk pelatihan mereka sehingga tidak bisa melampaui pendidikan di atas kelas lima. "


Ketika anak-anak meninggalkan sekolah atletik, mereka tidak bisa melakukan apa-apa karena mereka tidak memiliki keterampilan. komisi olahraga lokal kadang-kadang memberikan pekerjaan, tetapi pada akhirnya, banyak dari mereka menjadi pekerja pabrik.Beberapa atlet dijanjikan pekerjaan sebagai polisi ketika mereka pensiun, tapi janji-janji sering diingkari. Harian China Sports memperkirakan bahwa 80 persen dari atlet pensiun Cina menderita masalah kesehatan kronis, pengangguran,dan kemiskinan akibat dari overtraining.


Spoiler for memprihatinkan:


Uploaded with
ImageShack.us

Spoiler for memprihatinkan:


Uploaded with
ImageShack.us

Spoiler for memprihatinkan:


Uploaded with
ImageShack.us

Spoiler for memprihatinkan:


Uploaded with
ImageShack.us

Spoiler for memprihatinkan:


Uploaded with
ImageShack.us

Spoiler for memprihatinkan:


Uploaded with
ImageShack.us

Spoiler for memprihatinkan:


Uploaded with
ImageShack.us

Spoiler for memprihatinkan:


Uploaded with
ImageShack.us

Spoiler for memprihatinkan:


Uploaded with
ImageShack.us
Spoiler for memprihatinkan:


Uploaded with
ImageShack.us
Spoiler for memprihatinkan:


Uploaded with
ImageShack.us
Spoiler for memprihatinkan:


Uploaded with
ImageShack.us

Spoiler for memprihatinkan:


Uploaded with
ImageShack.us

Spoiler for memprihatinkan:


Uploaded with
ImageShack.us
Spoiler for memprihatinkan:


Uploaded with
ImageShack.us
Spoiler for memprihatinkan:


Uploaded with
ImageShack.us
Spoiler for memprihatinkan:


Uploaded with
ImageShack.us

Spoiler for memprihatinkan:


Uploaded with
ImageShack.us

Spoiler for memprihatinkan:


Uploaded with
ImageShack.us

Spoiler for memprihatinkan:


Uploaded with
ImageShack.us

Spoiler for memprihatinkan:


Uploaded with
ImageShack.us







sumber :http://www.kaskus.us/showthread.php?t=9857642